WhatsApp-Image-2026-05-05-at-14.10.18-1
KETIDAKTAHUAN KITA BISA MEMBUNUH MENTAL ORANG LAIN

  Di era sekarang, dunia benar-benar berada dalam genggaman. Batasan antara kehidupan nyata dan ruang digital kian menipis, hampir tak berjarak. Fakta menunjukkan bahwa sekitar 99% remaja sekolah di Indonesia kini terhubung ke internet dengan durasi pemakaian mencapai 7 hingga 10 jam setiap hari (Hutomo, 2023).  Angka tersebut bukan hanya statistik ini adalah peringatan bahwa ketergantungan kita pada perangkat digital telah mencapai tingkat yang sangat tinggi. 

Kebebasan yang Disalahgunakan

Internet memberikan  kita panggung untuk bebas bersuara. Siapa pun bisa berkomentar, menyukai, dan merespons apa saja yang mereka lihat. tetapi, kebebasan ini kerap menjadi pedang bermata dua. Banyak orang menggunakan jempol mereka untuk mengetikan hal negatif seperti merendahkan, menghina, hingga menghakimi sesama tanpa tahu cerita yang  sebenarnya.

Kata-kata pedas dilontarkan begitu saja tanpa jeda untuk berpikir. Padahal, sebuah kalimat singkat di kolom komentar bisa menjadi luka yang sangat dalam bagi orang yang menerimanya. Tanpa kita  sadari, perilaku ini perlahan “membunuh” mental seseorang seperti: menghancurkan rasa percaya diri dan meninggalkan bekas luka emosional yang bisa bertahan begitu lama hingga puluhan tahun.

Mengapa Kita Menjadi Lebih Kejam di Internet?

Mengapa orang yang tampak baik di dunia nyata bisa sangat kasar di media sosial? Secara psikologis, ada dua fenomena utama yang menjelaskan hal ini. 

  1. Pertama, efek disinhibition online (John Suler). Seseorang cenderung merasa lebih berani dan kehilangan kontrol di dunia digital.  Rasa anonim dan tidak adanya kontak mata langsung membuat pelaku merasa “aman” saat menyerang orang lain.
  2. Kedua, hilangnya Kedalaman Empati (Sherry Turkle): Teknologi sering menyaring emosi manusia. Karena kita hanya berinteraksi dengan layar, kita sering lupa bahwa akun yang kita serang adalah orang nyata yang memiliki perasaan, bukan hanya objek digital. 

Dua Sisi Luka: Dampak yang Tak Terelakkan

Dunia digital adalah ruang di mana sebuah tindakan kecil dapat memicu gelombang besar. Tetapi, sering kali kita lupa bahwa dampak dari perilaku buruk di media sosial tidak hanya berhenti pada satu orang saja, melainkan  jejak tersebut akan menjadi lingkaran destruktif yang menyerang korban secara batin dan kembali kepada pelaku sebagai bumerang yang mematikan dan bisa berdampak sangat buruk kedepannya.

Bagi Korban:

Bagi mereka yang menjadi korban serangan, layar ponsel bukan lagi jendela dunia, melainkan tembok penjara. Dampak yang dirasakan sangatlah nyata seperti:

  • Kesehatan Mental yang Terkoyak: Serangan digital yang bertubi-tubi mampu merobek ketenangan batin, memicu trauma mendalam, depresi, hingga kecemasan akut. Dalam kondisi terburuk, tekanan ini bisa memadamkan semangat hidup seseorang.
  • Runtuhnya Kepercayaan Diri: Saat ribuan suara asing menghakimi, korban mulai meragukan nilai dirinya. Mereka perlahan mulai memercayai “label buruk” yang disematkan oleh netizen, seolah itulah identitas asli mereka.
  • Isolasi dari Dunia Nyata: Rasa malu yang luar biasa sering kali memaksa korban menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka merasa mata setiap orang yang mereka temui adalah mata yang sama yang menghujat mereka di kolom komentar.
  • Ancaman Masa Depan: Fitnah atau tindakan outing (menyebarkan informasi pribadi) menciptakan noda permanen pada jejak digital korban, yang sewaktu-waktu dapat menjegal peluang karir dan impian pendidikan mereka.

Bagi Pelaku: 

Banyak yang mengira bahwa menyerang orang lain dari balik akun anonim membuat mereka aman. Padahal, perilaku toksik adalah “investasi” buruk bagi masa depan pelaku sendiri:

  • Jejak Digital yang Busuk: Ingatlah bahwa internet tidak pernah benar-benar lupa. Di masa depan, perusahaan besar akan memeriksa perilaku digital calon karyawannya. Satu komentar kasar di masa lalu bisa menjadi alasan utama kegagalan karier impian Anda.
  • Jeratan Hukum yang Nyata: Di Indonesia, ruang siber bukan ruang tanpa hukum. Tindakan perundungan dan pencemaran nama baik telah diatur tegas dalam UU ITE dengan ancaman sanksi pidana yang serius.
  • Erosi Moral dan Empati: Kebiasaan merendahkan orang lain perlahan akan membunuh rasa empati. Pelaku berisiko tumbuh menjadi pribadi yang toksik, yang pada akhirnya akan kesulitan membangun hubungan sehat dan tulus di dunia nyata.
  • Sanksi Sosial dan Serangan Balik: Di era transparansi ini, identitas pelaku sangat mudah terungkap. Jika hal itu terjadi, pelaku bisa berbalik menjadi target backlash publik yang berujung pada pengucilan oleh lingkungan sekitar, keluarga, hingga tempat kerja

Solusi: Literasi dan Kesadaran Diri

Masalah sebenarnya bukanlah pada teknologinya, melainkan pada bagaimana kita menggunakannya. Di sinilah literasi digital menjadi sangat krusial. Literasi digital bukan hanya soal jago mengoperasikan aplikasi, tapi soal etika dan kesadaran diri dalam berinteraksi. Sebelum menekan tombol kirim, berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri:

“Apakah kata-kata saya akan menyakiti orang lain, atau justru memberi dampak baik?”

Mengambil Kendali

Jika ketidaktahuan adalah akar dari hancurnya mental seseorang, maka kesadaran (mindfulness) dan literasi adalah penawarnya. Kita tidak bisa menghapus teknologi, tapi kita bisa mengubah cara kita menggunakannya. Berikut adalah langkah nyata untuk berhenti menjadi “pembunuh mental” dan mulai menjadi penjaga ruang digital:

1. Terapkan Prinsip “Jeda Tiga Detik”

Sebelum jempol Kalian menekan tombol send pada sebuah komentar atau unggahan, berhentilah selama tiga detik. Gunakan waktu ini untuk bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah saya akan mengatakan ini jika orang tersebut berdiri tepat di depan saya?
  • Apakah saya sudah tahu kebenaran seutuhnya, atau saya hanya terbawa arus emosi? Jika jawabannya meragukan, lebih baik urungkan niat Anda.

2. Bangun Literasi Empati

Literasi digital bukan hanya soal teknis, tapi soal rasa. Kita perlu menyadari kembali bahwa di balik setiap profil terlepas dari seberapa terkenalnya mereka atau seberapa kontroversial kontennya ada manusia dengan perasaan yang nyata. Pahami bahwa opini Anda yang “hanya satu” akan berlipat ganda dengan ribuan opini lainnya yang bisa menghancurkan mental korban.

3. Verifikasi Sebelum Reaksi

Di era informasi yang terfragmentasi, jangan mudah terpancing oleh potongan video atau berita tanpa konteks. Ketidaktahuan kita sering dimanfaatkan oleh algoritma untuk menciptakan kemarahan. Jadilah pembaca yang kritis: cari sumber aslinya, pahami latar belakangnya, dan jangan terburu-buru menghakimi.

4. Menjadi Upstander, Bukan Sekadar Penonton

Jika Anda melihat perundungan digital terjadi di depan mata, jangan hanya menjadi penonton yang diam. Jadilah upstander dengan cara:

  • Melaporkan (report) komentar yang melanggar aturan platform.
  • Memberikan dukungan moral melalui pesan pribadi kepada korban.
  • Mengalihkan pembicaraan ke arah yang lebih positif tanpa harus ikut berdebat dengan pelaku.

5. Atur Ulang Fokus Digital Anda

Gunakan fitur digital wellbeing untuk menyaring kata-kata kasar atau membatasi interaksi dengan akun-akun yang memicu sisi negatif Anda. Dengan mengatur lingkungan digital yang sehat bagi diri sendiri, kita akan lebih tenang dan tidak mudah terprovokasi untuk menyerang orang lain.

 

Referensi 

  • Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). (2023). Laporan survei penetrasi internet Indonesia 2023. APJII
  • Hinduja, S., & Patchin, J. W. (2018). Cyberbullying identification, prevention, and response. Cyberbullying Research Center.
  • Hutomo, B. (2023). Tingkat ketergantungan dan durasi penggunaan internet pada remaja Indonesia. Jurnal Komunikasi dan Media, 7(2), 115-128.
  • Republik Indonesia. (2024). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Lembaran Negara RI Tahun 2024. Jakarta.
  • Suler, J. (2004). The online disinhibition effect. CyberPsychology & Behavior, 7(3), 321-326.
  • Turkle, S. (2011). Alone together: Why we expect more from technology and less from each other. Basic Books. Turkle, S. (2015). Reclaiming conversation: The power of talk in a digital age. Penguin Press.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait